sebuah cerita dari tanah Sungai Pagu

Pertengahan bulan juni ini saya dan rekan-rekan dari kantor melakukan sebuah perjalanan yang lumayan panjang, seminggu penuh. Sebelumnya paling lama saya melakukan perjalanan hanya 4 hari, tetapi kali ini kami melakukan perjalanan selama 7 hari berturut-turut dengan mengunjungi beberapa daerah serta site tertentu dalam melakukan sebuah pengamatan kebudayaan secara skimming. Kenapa saya bilang skimming, karena perjalaanan yang kami lakukan hanya melihat dan menginventarisir budaya sebuah masyarakat bukan mendalami sebuah kajian permasalahan. Kali ini kami ke 2 kota besar Solok Selatan sebuah kita di Sumatera Barat dan Kerinci sebuah kota di Provinsi Jambi.  Perjalanan kali ini kami mencoba untuk melakukan sebuah pengamatan mengenai kebudayaan setempat dan bagaimana kebudayaan itu bertahan atau malah hilang di jaman sekarang.

Perjalanan ke daerah Sumatera Barat terutama ke daerah solok selatan dan sedikit ke wilayah Jambi tepatnya di wilayah Kerinci sedikti menggelitik saya untuk bertanya dan bertanya terus. Sejarah yang selama ini dipelajari dibangku sekolah seakan-akan tidak mampu menjawab pertanyaan besar saya, kenapa orang-orang daerah tidak mampu mengenali kebudayaan daerahnya dan tidak bangga pada kebudayaannya. Mereka hanya tahu kebudayaan itu dibawa nenek moyang mereka ke tempat mereka skrng tanpa tau apa maksudnya, bagaimana maknanya untuk kehidupan mereka. Sehingga sejarah hanya tinggal sejarah bagi masyarakatnya, sejarah hanya diketahui oleh orang-orang tua, klo belum tua mereka anggap tidak afdhol untuk berbicara mengenai sejarah.

Oleh karena itu, dalam perjalanan kali ini saya agak sedikit miris mellihat ternyata bangsa kita begitu rapuh sebagai sebuah kesatuan masyarakat apalagi sebagai kesatuan bangsa dan negara, mereka seperti acuh tak acuh dan tidak memperdulikan kebudayaan nenek moyang sebagai satu kesatuan sejarah dan pengetahuan kehidupan beradaptasi di tempat mereka tinggal. Salah satu tempat yang saya kunjungi adalah Alam Surambi Sungai Pagu, sebuah daerah di wilayah solok selatan Provinsi Sumatera Barat.

SOLOK SELATAN:

Sebuah kabupaten yang berada lumayan jauh dari kota padang ini, jarak tempuh yang lumayan bikin pantat pegel dan leher sakit tetapi perjalanannya terbayarkan dengan pemandangan-pemandangan alam yang menyejukkan mata. Hamparan sawah dan pegunungan terbentang dengan begitu luasnya. Sehingga mata seakan sedikit dibuai dengan keindahan alam ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebagai orang kota yang keseringan melihat bus-bus, mall-mall dan menghirup asap knalpot setiap hari, berkunjung ke tempat ini berasa berada di surga dunia. Begitu baiknya Tuhan menciptakan keindahan yang begitu rupawan.

Setelah mata dimanjakan dengan pemandangan yang begitu bagusnya, kami bermaksud berkunjung ke sebuah daerah Alam Surambi Sungai Pagu, sebuah daerah yang memiliki kekhasan khusus dibandingkan dengan wilayah minang lainnya. Ketika sampai di Alam Surambi Sungai Pagu, Tim terpecah menjadi dua bagian secara tidak sengaja, maklum dari pada berjalan dengan rombongan yang besar kami tidak mendapat apa2 atau dapat informasi hanya sebuah informasi umum, akhirnya saya dan MAs Ruddy (Antropolog, dosen UI) jalan-jalan keliling kampung pura-pura foto-foto sembari mencari orang yang dapat kami wawancarai. Dia mengaku bernama Puti Nilam Sari, seorang keturuan Puti dari Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu. Kakaknya merupakan  Rajo disambah (pucuk pemerintahan dari Alam Surambi Sungai Pagu), keturunan ke 7. Nilam mengatakan bahwa Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu merupakan cikal bakal dari berdirinya Kerajaan Pagaruyung yang ada dibawah sana, nilam juga mengatakan bahwa meraka asli sebagai orang melayu bukan orang minang,  menurutnya sebutan “Minang” merupakan sebutan yang datang dari pihak belanda sewaktu menjajah Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu. Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu dipimpin oleh 4 (empat) Rajo:

1. Daulat Yang Dipertuan Bagindo Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah/Rajo Alam(manjunjuang mahkota kuala Qamar)

2.  Yang Dipertuan Tuanku Rajo Bagindo/Rajo Adat

3. Yang Dipertuan Tuanku Rajo Malenggang/mangurus Hak Daciang

4.Yang Dipertuan Tuanku Rajo Batuah/Rajo Ibadah

masing-masing rajo ini memiliki tugas dan peranny masing-masing dalam sebuah kerajaan, tetapi pucuk atau pimpinan tertinggi Kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu berada di tangan Daulat Yang Dipertuan Bagindo Sultan Besar Tuanku Rajo Disambah. Beliau yang memegang peranan penting dan yang dianggap sebagai raja dari keempat rajo tersebut. Masing-masing rajo membawahi beberapa suku dibawahnya, Rajo Alam mempunyai 4 suku besar  dibawahnya: Suku Melayu, Suku Panai, Suku Tigo Lareh Bakapanjangan, Suku Kampai.

Semasa penjajahan belanda, Rajo Alam mengutus Suku Tigo lareh Bakapanjangan untuk melakukan ekspansi ke daerah padang, sekarang dalam menyebarkan agama Islam yang berasal dari Melayu. Suku-suku inilah yang kemudia berkembang di daerah padang dan sekitarnya, selanjutnya nilam pun menyatakan bahwa pagaruyung itu hanyalah sebuah kebudayaan yang dibuat oleh belanda untuk memecah belah bangsa termasuk orang-orang yang berasal dari Alam Surambi Sungai Pagu dari suku Tigo Lareh Bakapanjangan.

Nilam mengatakan bahwa sejarah seolah sudah berbalik dan tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, sebagai keturunan dari Rajo Alam, dia memiliki sebuah cita-cita untuk meluruskan sejarah yang sebenar-benarnya. Tetapi nilam mengaku sering dikecewakan dengan orang-orang pusat yang hanya datang tanpa membawa hasil yang memuaskan bagi kelangsungan kehidupan kebudayaan sebuah daerah terutama Alam Surambi Sungai Pagu sebagai bagian dari sebuah warisan kebudayaan Melayu-Islam yang masih berkembang dan masih dapat ditemui hingga saat ini. Sekali lagi, nilam menyebutkan ada sejarah yang ditutup-tutupi secara politis sehingga kebeneran yang berlaku dimasyarakat bersifat hampa tanpa nilai yang dapat diresapi oleh masing-masing individunya. Sehingga pengetahuan tentang adat istiadat hanyalah sebuah papan kosong yang diusung dalam sorotan lampu politis.

Sebelum nilam mengakhiri ceritanya, dia mengajak kami untuk berkeliling kampungnya melihat kampung melayu dalam dibawah kerajaan Alam Surambi Sungai Pagu. Dia menunjukkan tempat dimana tadinya Istana Rajo disambah berada sebelum akhirnya dipindahkan karena runtuh akibat gempa, di tempat tersebut terlihat bahwa pengetahuan orang dahulu mengenai mitigasi dan posisi wilayah sangat akurat. Hal ini terlihat bahwa Istana Rajo Disambah berada di tengah-tengah dari Suku-suku dibawahnya. Sehingga Istana menjadi Pusat (inti) dari sebuah wilayah bujur sangkar. di setiap titik ujung nya disitulah suku-suku tersebut menetap dan berkembang. sebuah pengetahuan leluhur yang sangat berharga, namun sekarang sudah ditinggalkan dan digantikan dengan sebuah pengetahuan barat yang dianggap modern. Padahal pengetahuan kitalah yang sebenarnya menjadi patokan orang barat.

Kembali lagi ke Alam Surambi Sungai Pagu, di kampung ini rumah gadang yang berdiri jumlah gonjongnya berbeda satu sama lain, jika kita di Padang Jumlah gonjong yang dijumpai hanya empat, enam atau lima tetapi yang ada di kampung ini ada banyak variasi jumlah gonjong mulai dari dua gonjong, tiga gonjong, hingga delapan gonjong. sebenarnya ada rumah gadang yang 11 gonjong tapi karena sudah tidak layak maka dibangun kembali oleh pemda tetapi gonjong yang dibangun hanya 6 gonjong, sangat disayangkan.

Kisah Alam Surambi Sungai Pagu hanyalah salah satu sejarah yang terlupakan oleh masyarakat sekarang, sejarah yan ada sekrang hanyalah sebuah coretan tinta emas dari penguasa. Siapa yang menjadi penguasanya maka ceritanya yang berkembang, klo saya bisa mencomot salah satu quote dari HBO “Everyone knows the story, but nobody knows the thruth”

Sejarah kekayaan Indonesia yang begitu beragam dan unik, tidak semuanya dapat muncul ke permukaan, yang ada hanyalah dongeng penguasa. Sehingga sangat disayangkan bahwa pada akhirnya pengetahuan sejarah inipun menghilang bukan hanya pada tingkat nasional tetapi juga pada masyarakat setempatnya.

Seharusnya kita memahami bahwa dengan adanya sejarah kita mampu mempelajari kemampuan sebuah masyarakat dalam bertahan hidup demi kelangsungan suku tersebut, dengan selalu selaras dengan alam dan seimbang dengan alam. Maka cintailah negeri kita dan sejarah yang mendampinginya, maka akan timbul rasa kebanggaan pada budaya bangsa sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s