Apakah perempuan korban dari “Life Cycle”

Turner menyebutkan bahwa manusia dalam setiap tahapan hidupnya pasti mengadakan sebuah upacara yang berhubungan dengan keseimbangan alam manusia dengan alam di luar manusia. Hal in terjadi karena manusia sedang berada dalam sebuah proses kebimbangan, Turner menyebut posisi ini sebagai sebuah liminalitas.

Mulai dari manusia lahir kedunia ini hingga mati, mengalami beberapa proses yang harus dilaluinya.Mulai dari kelahiran, masa akil baligh, dewasa, pernikahan, kehamilan, melahirkan, tua, hingga saat kematian. Sebagai sebuah proses menjadi manusia sejati, seseorang harus menjalani proses-proses ini hingga dapat dikatakan sebagai manusia normal, normal dengan kehidupannya. Namun tidak setiap menusia memiliki standar yang sama seperti proses yang telah disebutkan diatas, ada manusia-manusia yang memandang dan berpikiran bahwa ada beberapa proses tertentu yang boleh di-skip.

Saya yang dilahirkan sebagai seorang perempuan sebenarnya menikmati setiap proses yang ada, tetapi kadangkala lingkungan akan berkata lain ketika tiba waktunya namun kita belum melakukan proses tersebut. Misalnya saja proses pernikahan, seorang perempuan yang berumur 25 tahun sudah harus menikah karena bila telat akan disebut sebagai perawan tua, atau dalam proses pernikahan jika sang istri belum juga memberikan keturunan, semuanya diacukan pada dungsi dan peran seorang perempuan dalam lingkungan sosial.

Sehingga dalam menjalani proses-proses ini tidak dapat dinikmati oleh perempuan sendiri karena adanya dorongan dari lingkungan, dan dorongan ini bisa saja membuat perempuan termotivasi untuk maju atau bisa juga terintimidasi dan merasa “gagal” sebagai seorang perempuan, pada akhirnya akan melakukan tindakan-tindakan yang dianggap lebih menyimpang lagi dimata masyarakat. Keserbasalahan inilah yang menjadikan proses life-cycle menjadi sebuah momok bagi manusia terutama perempuan. Mereka harus sesuai seperti apa yang dikatakan atau dianggap “wajar” dilakukan oleh seorang perempuan.

Padahal setiap manusia baik itu laki-laki dan perempuan diciptakan sama dan sejajar dimata Tuhan, mereka hanya diklasifikasikan sebagai bagian yang berbeda pada posisi tertentu tapi pada dasarnya sama sebagai bagian dari ciptaan-Nya. Tetapi kebanyakan dari proses kehidupan melibatkan perempuan sebagai bagian utama yang “HARUS” berada dalam posisi pelaku dan yang melakukan. Jika tidak yang ada hanya sebuah cibiran,  pandangan miring dari lingkungan dan mengharuskan perempuan menjadi seperti apa yang dikonstruksikan oleh masyarakat.

Kalo begini adanya yang ada hanyalah seorang “perempuan konstruksi budaya masyarakat setempat”, tanpa perempuan dapat menjelaskan posisinya sendiri sesuai dengan kemauannya sendiri. Perempuan oh perempuan, nasib mu sudah tercabik oleh tangan-tangan yang mengatasnamakan “perempuan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s